2/10/16

Art.Collider.What?

Salah satu topik favorit saya dan sohib saya Laila adalah, seni dan segala macam turunannya. Mulai dari senimannya, karyanya, siapa pacar seniman itu, harta seniman (ketauan matrialistisnya yaa..), dan sebagainya yang masih berkaitan. Tapi yang paling sering kita berdua bahas, apa sih manfaat seni-seni yang jadi bagian dari hidup ini? --selain karena sekarang saya mencari nafkah dari industri kesenian, Ha!

Kalau jawaban 'utopis' atau 'sorga' versi saya, melaui seni saya mempelajari ulang kehidupan, masyarakat, hubungan antara manusia dengan manusia atau makhluk hidup lainnya, megahnya ya mempelajari ulang apa ada maksud dari semesta. Terkadang melihat sebuah patung dengan bentuk tak menentu, sangat sulit bagi saya untuk bisa langsung menginterpretasikan arti dari keabstrakkan tersebut, untuk itu saya paling hobi mengoleksi katalog pameran (kalau seni rupa) atau buku program (jika seni pertunjukan) demi mendapatkan penjelasan tertulis dari sang seniman, kurator, atau program direktur tentang karya yang ditampilkan itu. Setelahnya, saya akan mengawang-awang atau sok merenung, menentukan setuju atau tidak, atau sekadar menggantung tak selesai.

Ah, sok bijak, mending pinjem rumusan dari filsuf beneran masa kini ajis! Alain De Botton, melalui salah satu channel langganan--favorit saya--di YouTube; The School of Life.


Setuju atau enggak? setuju aja yaa, biar rasanya jadi manusia yang sudah beranjak dari dasar ke piramida Maslow paling puncak, aktualisasi diri (bener nggak sih?).

Berada di galeri yang sepi dan dengan berbagai jenis dan bentuk karya, buat saya (lagi-lagi subjektif) sangatlah therapeutic. Yes, jaman dulu, kalau mumet di meja kerja, turun aja ke galeri (kalau lagi ada pameran). Biasanya di hari kerja dan jam kerja jarang ada pengunjung di dalam galeri. Keluar galeri, nambah mumeet..hahaha, nggak deng, seribet apapun karyanya, tetap bisa nge-recharge keletihan saya.

Di akhir tahun 2015 dan awal tahun 2016 ini, saya menghadiri beberapa pameran seni rupa; Landscape Anomaly (Eko Nugroho), Jakarta Biennale, Collider dan Art Stage Singapore. Nah, yang ingin ku highlight duluan adalah pameran Collider, karena kalau Jakarta Biennale atau Art Stage setiap tahun pasti ada--walau dengan tema berbeda--tapi kalau Collider belum tentu ada lagi. Semoga sih diperpanjang terus ya pamerannya..kalau nggak salah, pameran ini memang akan touring sampai tahun 2017. Nggak mampir Indonesia nih?!






Saya sendiri, pertama kali mendengar tentang Collider--lengkapnya Large Hadron Collider (LHC)--ketika menguntit Professor Brian Cox (Infinite Monkey Cage) melalui akun twitter dan sumber-sumber internet lainnya. LHC apaan? belum sepenuhnya mengerti juga sih....hahaha*otak kosong*

Coba ku paparkan sebentar apa yang ku tangkap ya; LHC ini adalah akselerator penunjang sebuah eksperimen sains terbesar di dunia, yang dilakukan oleh CERN (organisai untuk riset nuklir), juga kolaborasi ilmuwan partikel fisika dari seluruh dunia (termasuk Brian Cox di dalamnya). LHC berada dalam terowongan yang melingkar  sepanjang 27 km dan berada di bawah tanah perbatasan Perancis-Swiss.


Awal terbentuknya CERN

Apa guna eksperimen ini? Untuk membuat simulasi Big Bang! Bukan yang grup Korea yaa, harapannya kalau berhasil, dari simulasi ini para ilmuwan bisa meneliti lebih lanjut bagaimana alam semesta terbentuk, bagaimana perilaku force of nature, atau law of nature. Cara kerja LHC ini adalah dengan menabrakan partikel subatomik (Proton) dan dengan akselerasi hampir mendekati kecepatan cahaya. Ketika dua subatomik ini bertabrakan, energi yang timbul ditransformasi menjadi subatomik partikel jenis baru *ngetik sampai sini aja udah pusing duluan* dan hasil tabrakan inilah yang diteliti lebih lanjut, dengan anggapan beginilah cara kerja BigBang. *I'm lost in translation*

Kalau itu tujuan LHC sebenarnya, pamerannya bertujuan memaparkan ke kita-kita yang nggak paham ini dengan cara yang menyenangkan. Ada orang yang membandingan lebih penting mana science atau art (inget STEM vs STEAM), pameran ini membuktikan keduanya berkolaborasi bukan kompetisi.

Buat saya yang jauh dari pemahaman seorang scientist, untuk memahami teori atau konsep partikel fisika begini kan kayak 'jauh' banget, tapi dengan sebuah pameran seperti ini, paling nggak sedikiiiiiiiiit aja bisa mengerti. Ruang pamer Collider ini dibuat seolah-olah kita ada di dalam markas CERN dan melihat bagaimana LHC bekerja secara up close and personal, kesan jauh tadi jadi hilang kan.

Saat masuk, kita langsung diperlihatkan ringkasan dari cara kerja LHC ini dan apa yang dilakukan oleh ilmuwan yang terlibat:

Bentuk akseleratornya




Mana aku tahu jawabannya..

Kemudian masuk ke area selanjutnya,


Kita berhenti sesaat di sini untuk mendengarkan video penjelasan dari salah satu ilmuwan di CERN. Hanya di video ini Brian Cox di-bully! *image ini dari Journal Science, aku tak sempat foto ruang ini, terlalu amaze liat Brian Cox*
Dari auditorium kita mulai masuk ke ruang kerja dan area LHC tersebut:


Teori yang mendasari eksperimen LHC ini

*bakar buku fisika*





 Menuju terowongan LHC,


Nggak semuanya saya foto, sibuk bacain caption, walaupun ujung-ujungnya nggak paham, apalagi kalau udah liatnya rumus dan persamaan!

Kemudian sampailah kita ke sebuah ruangan dengan layar besar, di sinilah kita bisa melihat gambaran bagaimana partikel itu ditabrakan, tapi kayaknya foto yang ku pasang ini ngacak, berhubung gue lupa urutan prosesnya yaa, orang diem di dalam bagian ini lama banget..haha.















 Keluar dari (ceritanya) terowongan LHC, kita masuk ke bagian ruang kerja orang-orang di CERN.









Ruang pamer terakhir adalah ruang dengan pemetaan para ilmuwan dari seluruh dunia yang ikut berkolaborasi dengan CERN.



Apa kesimpulan saya setelah melihat pameran ini?

Hmm..sepertinya scientist-lah yang paling bersyukur dan menghargai ciptaan Tuhan (masih Theis), karena mereka lah yang memberi perhatian paling penuh dan (rasanya) apresiasi tertinggi terhadap apa saja yang ada di bumi juga semesta, dengan cara meneliti benda/makhluk/partikel tersebut. Kalau saya, tahu pakainya saja.

Dan, seni harus jadi alat untuk menyebarkan hal penting seperti ini!

No comments:

Post a Comment