Di hari libur kemarin, saya dan teman iseng
pergi ke Cinere Mall. Kami ingin bernostalgia ke pertokoan yang jadi tempat
nongkrong semasa SMP, dan memutuskan untuk nonton film di sana, tapi bukan film
yang ‘berisi’, film ‘asal’ aja supaya makin sejalan dengan sensasi berada di
dalam mall yang kurang terurus ini.
Ternyata bioskopnya sudah diperbaharui,
Alhamdulillah banget! Sudah disamakan menjadi Cineplex XXI, dan harga masih
murah, senang dong ya. Melihat daftar film yang diputar saat itu, kami membeli
tiket film-nya Raditya Dika ‘Single’, sudah siap dengan lawakan garing atau
yang nggak lucu sama sekali. Tapi tiba-tiba teman saya bilang “Kok, kayaknya
kita mending nonton ini ya”, sambil menunjuk poster film ‘Bulan Terbelah Di
Langit Amerika'’. Saya bilang, saya nggak setuju nonton itu, karena itu pasti
drama-drama serius dan rencananya kita pengen nonton ‘sampahan’ aja (maaf
Raditya Dika, as we judged the book by its cover banget)
![]() |
| image from Google |
Berhubung teman saya ini punya aura Hitler,
alias mudah mendominasi, akhirnya kami nonton film ‘Terbelah..’ tersebut.
Film dibuka dengan lokasi di New York,
Amerika Serikat dan dengan adegan perayaan ulang tahun seorang anak perempuan kecil
yang mendapat hadiah Al-Quran dari sang Ayah. Si Ayah kemudian memberikan
nasihat bahwa apabila si anak merasakan kesedihan buka dan baca saja buku ajaib
tersebut. Tiba-tiba si Ayah mendapat sebuah telefon dan belari menuju kamar
untuk menerima telefon, si Bunda/istri yang sambil merekam dengan camcorder
mengikuti suaminya itu, camcorder tetap merekam, dan terlihat pembicaraan yang
sulit ditebak (gampang sih nebaknya, bahwa penonton mau diarahkan untuk melihat
ayahnya ini seolah-olah akan melakukan kegiatan teroris, oya penampakan ayahnya
ini stereotype pria arab-muslim dengan jenggot lebat, gamis putih, peci putih
yang nempel di kepala)
Usai menerima telefon, si Ayah langsung
pamit ke anak dan istrinya, ia harus segera pergi bertemu orang dan
mengantarkan paket. Istri lalu pergi belanja, saat ia membayar barang belanjaan
di kasir, tiba-tiba kasir berteriak terkejut menunjuk layar tv, istri menoleh
ke arah tv dan melihat tayangan gedung kembar World Trade Centre (WTC) di New
York roboh akibat ditabrak pesawat. (yesss, 9/11 adalah latar belakangnya).
Singkat cerita, beberapa bulan atau tahun
ya..(lupa time frame-nya) si Ayah di atas dituduh sebagai teroris yang ikut
melakukan penghancuran gedung WTC tersebut, istri dan anak kena imbasnya
dikucilkan masyarakat, sampai si istri membuka jilbab dan menggunakan wig
karena hidupnya terlalu berat dicemooh akibat penampilan muslimahnya. Lalu si
Anak membuat video dan mengunggahnya ke youtube berjudul ‘Do You Know My Dad?’
di mana ia menyampaikan bahwa ayahnya tidak mungkin teroris dan apa yang
diyakini ayahnya (agama Islam) adalah kedamaian. Video menjadi viral, hingga
mengusik kantor berita di Wina yang kemudian mengutus wartawannya, yang orang
Indonesia, muslimah (lagi-lagi sterotype muslimah;berhijab) untuk menulis cerita tentang keluarga
si anak dan mewawancarai mereka, dengan sudut pandang ‘would the world be
better without Islam?’
![]() |
| image from Google |
Oh yang penting untuk diinfokan adalah,
tokoh utama yang membuat emosi di film ini naik-turun (harapannya) adalah si
wartawan Indonesia di Wina bernama Hanum (dimainkan oleh Acha Septriasa) dan
suaminya Rangga, juga orang Indonesia yang sedang menyelesaikan studi PhD
Ekonomi dan Bisnis-nya di sana (dimainkan oleh Robertino? Lupaa), yang ternyata
(baru ku ketahui) kedua tokoh ini adalah kelanjutan dari film ’99 Cahaya di
Eropa’.
Apa pendapatku tentang film ini?
Tidak suka! Tentu aja ini bisa dianggap
subjektif ya, kalau terhadap karya seni mestilah subjektif. Tapi biarkan aku
menjabarkan apa yang membuatku tidak suka pada film ini, dan rasanya pingin
bilang ke orang-orang untuk nggak usah nonton film ini, kecuali dapat gratisan.
Haha.
Kalau saya memakai sudut pandang agama,
film ini berusaha berkhotbah ke penonton, baik ke yang muslim atau non-muslim,
bahwa Islam bukanlah agama yang merusak (setuju, seharusnya ketika orang
memeluk agama, ia tidak merusak), Islam bukan berarti kekerasan melainkan
kedamaian, dan yang menyebabkan perang adalah uang dan kekuasaan. Saya setuju
juga dengan pesan ini, tapi mungkin penulisnya lupa, bahwa dari jaman baheula,
agama selalu menjadi alat untuk meraih uang dan kekuasaan, dan ini efektif
banget, bahkan dengan seolah-olah tujuannya mulia. Masalahnya, penyampaian
pesan tersebut melalui film ini, terasa oversimplifikasi dan penulisan plot
yang nggak pakai logika baik.
Misalnya,
Si wartawan, Hanum, perlu mengambil berkas tentang
narasumbernya--yang tertinggal di taksi, dan akhirnya dipegang oleh seseorang
bernama Michael Jones, yang sangat mengutuk pelaku terorisme 9/11 dan menjadi
radikal dalam menentang kaum muslim—di area ground zero, di mana Michael Jones
sedang melakukan demonstrasi menentang pembangunan masjid di area bekas
reruntuhan WTC. Saat Hanum berhasil bertemu Michael Jones dan mengambil
berkasnya tersebut, ia bertanya apakah ia bisa mewawancarai sebentar Michael
Jones tentang mengapa ia begitu keras dalam menentang pembangunan masjid dan
terhadap kaum muslim itu sendiri. Michael Jones menjawab, bahwa istrinya
terbunuh di tragedi itu, dan saat ini hidupnya menderita, lalu Hanum berkata
bahwa seharusnya dia tidak menyalahkan satu agama atau salah satu kaum (ini saya
nggak masalah, ya memang betul, kalau hidupnya menderita, ya salah sendiri
nggak bisa move-on, gampang aja ngemeng), kemudian Hanum menambahkan argumennya
terhadap Michael Jones dengan membacakan arti surat Al Maidah ayat 8, “Sir, Al
Maidah verse 8, o you who believed, be persistently standing firm for Allah,
witnesses in justice, and do not let the hatred of a people prevent you from
being just. Be just; that is nearer to righteousness. And fear Allah; indeed,
Allah is acquainted with what you do”—Nah ini! Yang menurut saya logika
plot-nya kurang dipikirin. Pertama, Hanum itu wartawan atau penceramah? ya
mungkin dia wartawan yang sangat paham isi Al-Quran, tapi bukankah nilai
jurnalisme itu seharusnya berimbang ya? Buat saya nggak masuk logika, ketika
seorang wartawan sedang mewawancarai orang, tiba-tiba ia preaching dan berusaha
memaksakan nilai yang ia pegang kepada narasumber. Lalu, di film nggak
dijelaskan detail latar belakang Michael Jones apakah dia muslim atau tidak,
kalau Hanum udah membacakan panjang lebar arti surat Al Maidah, terus Michael
Jones berada di luar konteks yakni nggak paham Al-Quran, juga rasanya percuma,
terlebih dengan kondisi yang digambarkan di film, saat itu mereka berdua berada
di tengah area demonstrasi yang kacau, jadi buat saya, Hanum adalah wartawan
yang nggak efektif, antara bekerja mengumpulkan data sama ingin memuaskan ego
ke-muslim-annya (mengarah ke self-righteousness, I think), dilakukan bersamaan.
Kemudian, yang bikin saya nggak tahan
(kenapa nggak keluar aja, it was so bad, I wanted to see the ending) adalah
ketika Hanum di Wina dan ditugaskan ke New York dia minta ditemani suaminya
supaya nggak nyasar. Ih heraan, karakter jurnalis menye-menye amat! Oke, kalau
sekedar minta ditemenin karena udah pindah negara nggak apa-apa sih, cuma di film
itu, kenapa akhirnya si suami ikut nemenin karena juga dapat tugas dari
professor S3-nya. Tapi ketika suami harus pergi mengurus tugas dari
professornya, Hanum merengek untuk ditemani cari alamat narasumber dan
mengambil berkas di Michael Jones, begitu suaminya bilang nggak mungkin pergi
nemenin yang karena ada tugas, dianaa ngambeeek. HALOO?? Nggak bisa buka GPS
atau beli peta aja sanaa..*super subjektif
Terus yaa..
Ada adegan interior, di dalam gedung ketika
terjadi ledakan di WTC, dan orang-orang panik berlarian untuk menyelamatkan
diri, dan salah satu tokoh (si ayah muslim) yang sedang bertemu dengan seorang
pebisnis untuk mencari pendanaan untuk anak-anak di Afrika (ya ternyata si Ayah
bekerja di NGO, dan di dalam koper misterius itu dia hanya membawa foto-foto
penderitaan anak Afrika, bukan bom, zzzz) berusaha menyelamatkan si pebisnis
dan sekretarisnya dari terinjak-injak orang. Si Sekretaris ini tiba-tiba bilang
asma-nya kambuh (ya iyalaah, stress banyak asap dan gedung mau hancur), terus
si Ayah dan Pebisnis bilang “Keep breathing! Keep breathing!”—HALOO lagi!,
dianaaa kan asmathiquee, mana bisa napas normal! Setelahnya si Sekretaris
bilang kalau dia perlu udara segar (iya mbak, makanya orang-orang lagi berusaha
keluar), saking paniknya (mungkin) dia memutuskan lompat dari jendela, dan asal
tau aja mereka semua itu berada di lantai15 atau 20an kali yaa dan akhirnya si
Sekretaris bergelantungan di pinggir jendela..MBAK MAU CARI UDARA SEGAR ATAU
EMANG CARI MATI CEPET! Jadi kan aku bingung mau si embak ini apa, minta
diselamatkan dari asap-asap, tapi kok tiba-tiba lompat, begitu gelantungan dan
berhasil dipegangin, minta dilepas aja…mungkin dia capek disuruh akting di film
dengan plot begini.
Sebenarnya masih banyak lagi bagian yang
ingin membuat saya teriak di bioskop “FILM BEGINI AMAAAT!”.
Juga buat saya yang nggak terselesaikan
dengan baik dan cerdas--kalau cerdas berfilosofi tinggi memang tujuannya—adalah
artikel yang menjadi premise film ini, ‘would the world be better without
Islam’. Tentu saja di akhir film, jawaban dari angle artikel yang dituliskan
Hanum adalah ‘Tidak, dunia tidak akan menjadi lebih baik apabila tidak ada
Islam’, tapi narasi yang ditampilkan nggak terasa bahwa itu hasil analisa yang
baik dari Hanum setelah mewawancarai keluarga yang dianggap teroris, juga
Michael Jones yang kontra dengan muslim. Ya selama adegan Hanum bersama
keluarga yang menjadi narasumber, cara dia mewawancarai, pertanyaan yang
diajukan nggak seperti idealnya jurnalis, bahkan lebih banyak curhat yang
terjadi ke narasumber tentang suaminya yang nggak mau nemenin.
Intinya, film ini buat saya terlalu berusaha
‘dalam’ penuh makna dan nilai tinggi, tapi penjelmaannya super dangkal dan
terlalu menyederhanakan isu yang kompleks. Kalau mau berargumen, kenapa dunia nggak
bisa lebih baik tanpa Islam? Melihat kenyataan banyak perang dan kesewenangan
yang terjadi, khususnya di negara yang mengutamakan keislaman. Seharusnya Hanum
tetap memberikan tempat untuk gagasan ini, bahwa bisa saja dunia lebih baik
tanpa Islam atau lebih baik tanpa agama sekalipun, tentu kalau pilihan hidupnya adalah lebih baik
dengan Islam nggak masalah. Atau kita pikirkan bersama saja pertanyaan tersebut, dan silahkan rumuskan jawaban masing-masing.
Mengaitkan dengan kata awal dari judul film ini 'Terbelah', mungkin saya harus terbelah dengan orang
seperti Hanum, kalau jenis orang ini adalah yang terus memaksakan nilai yang ia
pegang ke orang lain.
*Belah duren ala Jupe.


No comments:
Post a Comment