12/27/15

Separasi

-->
Di hari libur kemarin, saya dan teman iseng pergi ke Cinere Mall. Kami ingin bernostalgia ke pertokoan yang jadi tempat nongkrong semasa SMP, dan memutuskan untuk nonton film di sana, tapi bukan film yang ‘berisi’, film ‘asal’ aja supaya makin sejalan dengan sensasi berada di dalam mall yang kurang terurus ini.

Ternyata bioskopnya sudah diperbaharui, Alhamdulillah banget! Sudah disamakan menjadi Cineplex XXI, dan harga masih murah, senang dong ya. Melihat daftar film yang diputar saat itu, kami membeli tiket film-nya Raditya Dika ‘Single’, sudah siap dengan lawakan garing atau yang nggak lucu sama sekali. Tapi tiba-tiba teman saya bilang “Kok, kayaknya kita mending nonton ini ya”, sambil menunjuk poster film ‘Bulan Terbelah Di Langit Amerika'’. Saya bilang, saya nggak setuju nonton itu, karena itu pasti drama-drama serius dan rencananya kita pengen nonton ‘sampahan’ aja (maaf Raditya Dika, as we judged the book by its cover banget)

image from Google

Berhubung teman saya ini punya aura Hitler, alias mudah mendominasi, akhirnya kami nonton film ‘Terbelah..’ tersebut.

Film dibuka dengan lokasi di New York, Amerika Serikat dan dengan adegan perayaan ulang tahun seorang anak perempuan kecil yang mendapat hadiah Al-Quran dari sang Ayah. Si Ayah kemudian memberikan nasihat bahwa apabila si anak merasakan kesedihan buka dan baca saja buku ajaib tersebut. Tiba-tiba si Ayah mendapat sebuah telefon dan belari menuju kamar untuk menerima telefon, si Bunda/istri yang sambil merekam dengan camcorder mengikuti suaminya itu, camcorder tetap merekam, dan terlihat pembicaraan yang sulit ditebak (gampang sih nebaknya, bahwa penonton mau diarahkan untuk melihat ayahnya ini seolah-olah akan melakukan kegiatan teroris, oya penampakan ayahnya ini stereotype pria arab-muslim dengan jenggot lebat, gamis putih, peci putih yang nempel di kepala)

Usai menerima telefon, si Ayah langsung pamit ke anak dan istrinya, ia harus segera pergi bertemu orang dan mengantarkan paket. Istri lalu pergi belanja, saat ia membayar barang belanjaan di kasir, tiba-tiba kasir berteriak terkejut menunjuk layar tv, istri menoleh ke arah tv dan melihat tayangan gedung kembar World Trade Centre (WTC) di New York roboh akibat ditabrak pesawat. (yesss, 9/11 adalah latar belakangnya).

Singkat cerita, beberapa bulan atau tahun ya..(lupa time frame-nya) si Ayah di atas dituduh sebagai teroris yang ikut melakukan penghancuran gedung WTC tersebut, istri dan anak kena imbasnya dikucilkan masyarakat, sampai si istri membuka jilbab dan menggunakan wig karena hidupnya terlalu berat dicemooh akibat penampilan muslimahnya. Lalu si Anak membuat video dan mengunggahnya ke youtube berjudul ‘Do You Know My Dad?’ di mana ia menyampaikan bahwa ayahnya tidak mungkin teroris dan apa yang diyakini ayahnya (agama Islam) adalah kedamaian. Video menjadi viral, hingga mengusik kantor berita di Wina yang kemudian mengutus wartawannya, yang orang Indonesia, muslimah (lagi-lagi sterotype muslimah;berhijab) untuk menulis cerita tentang keluarga si anak dan mewawancarai mereka, dengan sudut pandang ‘would the world be better without Islam?’

image from Google


Oh yang penting untuk diinfokan adalah, tokoh utama yang membuat emosi di film ini naik-turun (harapannya) adalah si wartawan Indonesia di Wina bernama Hanum (dimainkan oleh Acha Septriasa) dan suaminya Rangga, juga orang Indonesia yang sedang menyelesaikan studi PhD Ekonomi dan Bisnis-nya di sana (dimainkan oleh Robertino? Lupaa), yang ternyata (baru ku ketahui) kedua tokoh ini adalah kelanjutan dari film ’99 Cahaya di Eropa’.

Apa pendapatku tentang film ini?

Tidak suka! Tentu aja ini bisa dianggap subjektif ya, kalau terhadap karya seni mestilah subjektif. Tapi biarkan aku menjabarkan apa yang membuatku tidak suka pada film ini, dan rasanya pingin bilang ke orang-orang untuk nggak usah nonton film ini, kecuali dapat gratisan. Haha.

Kalau saya memakai sudut pandang agama, film ini berusaha berkhotbah ke penonton, baik ke yang muslim atau non-muslim, bahwa Islam bukanlah agama yang merusak (setuju, seharusnya ketika orang memeluk agama, ia tidak merusak), Islam bukan berarti kekerasan melainkan kedamaian, dan yang menyebabkan perang adalah uang dan kekuasaan. Saya setuju juga dengan pesan ini, tapi mungkin penulisnya lupa, bahwa dari jaman baheula, agama selalu menjadi alat untuk meraih uang dan kekuasaan, dan ini efektif banget, bahkan dengan seolah-olah tujuannya mulia. Masalahnya, penyampaian pesan tersebut melalui film ini, terasa oversimplifikasi dan penulisan plot yang nggak pakai logika baik.

Misalnya,

Si wartawan, Hanum, perlu mengambil berkas tentang narasumbernya--yang tertinggal di taksi, dan akhirnya dipegang oleh seseorang bernama Michael Jones, yang sangat mengutuk pelaku terorisme 9/11 dan menjadi radikal dalam menentang kaum muslim—di area ground zero, di mana Michael Jones sedang melakukan demonstrasi menentang pembangunan masjid di area bekas reruntuhan WTC. Saat Hanum berhasil bertemu Michael Jones dan mengambil berkasnya tersebut, ia bertanya apakah ia bisa mewawancarai sebentar Michael Jones tentang mengapa ia begitu keras dalam menentang pembangunan masjid dan terhadap kaum muslim itu sendiri. Michael Jones menjawab, bahwa istrinya terbunuh di tragedi itu, dan saat ini hidupnya menderita, lalu Hanum berkata bahwa seharusnya dia tidak menyalahkan satu agama atau salah satu kaum (ini saya nggak masalah, ya memang betul, kalau hidupnya menderita, ya salah sendiri nggak bisa move-on, gampang aja ngemeng), kemudian Hanum menambahkan argumennya terhadap Michael Jones dengan membacakan arti surat Al Maidah ayat 8, “Sir, Al Maidah verse 8, o you who believed, be persistently standing firm for Allah, witnesses in justice, and do not let the hatred of a people prevent you from being just. Be just; that is nearer to righteousness. And fear Allah; indeed, Allah is acquainted with what you do”—Nah ini! Yang menurut saya logika plot-nya kurang dipikirin. Pertama, Hanum itu wartawan atau penceramah? ya mungkin dia wartawan yang sangat paham isi Al-Quran, tapi bukankah nilai jurnalisme itu seharusnya berimbang ya? Buat saya nggak masuk logika, ketika seorang wartawan sedang mewawancarai orang, tiba-tiba ia preaching dan berusaha memaksakan nilai yang ia pegang kepada narasumber. Lalu, di film nggak dijelaskan detail latar belakang Michael Jones apakah dia muslim atau tidak, kalau Hanum udah membacakan panjang lebar arti surat Al Maidah, terus Michael Jones berada di luar konteks yakni nggak paham Al-Quran, juga rasanya percuma, terlebih dengan kondisi yang digambarkan di film, saat itu mereka berdua berada di tengah area demonstrasi yang kacau, jadi buat saya, Hanum adalah wartawan yang nggak efektif, antara bekerja mengumpulkan data sama ingin memuaskan ego ke-muslim-annya (mengarah ke self-righteousness, I think), dilakukan bersamaan.

Kemudian, yang bikin saya nggak tahan (kenapa nggak keluar aja, it was so bad, I wanted to see the ending) adalah ketika Hanum di Wina dan ditugaskan ke New York dia minta ditemani suaminya supaya nggak nyasar. Ih heraan, karakter jurnalis menye-menye amat! Oke, kalau sekedar minta ditemenin karena udah pindah negara nggak apa-apa sih, cuma di film itu, kenapa akhirnya si suami ikut nemenin karena juga dapat tugas dari professor S3-nya. Tapi ketika suami harus pergi mengurus tugas dari professornya, Hanum merengek untuk ditemani cari alamat narasumber dan mengambil berkas di Michael Jones, begitu suaminya bilang nggak mungkin pergi nemenin yang karena ada tugas, dianaa ngambeeek. HALOO?? Nggak bisa buka GPS atau beli peta aja sanaa..*super subjektif

Terus yaa..

Ada adegan interior, di dalam gedung ketika terjadi ledakan di WTC, dan orang-orang panik berlarian untuk menyelamatkan diri, dan salah satu tokoh (si ayah muslim) yang sedang bertemu dengan seorang pebisnis untuk mencari pendanaan untuk anak-anak di Afrika (ya ternyata si Ayah bekerja di NGO, dan di dalam koper misterius itu dia hanya membawa foto-foto penderitaan anak Afrika, bukan bom, zzzz) berusaha menyelamatkan si pebisnis dan sekretarisnya dari terinjak-injak orang. Si Sekretaris ini tiba-tiba bilang asma-nya kambuh (ya iyalaah, stress banyak asap dan gedung mau hancur), terus si Ayah dan Pebisnis bilang “Keep breathing! Keep breathing!”—HALOO lagi!, dianaaa kan asmathiquee, mana bisa napas normal! Setelahnya si Sekretaris bilang kalau dia perlu udara segar (iya mbak, makanya orang-orang lagi berusaha keluar), saking paniknya (mungkin) dia memutuskan lompat dari jendela, dan asal tau aja mereka semua itu berada di lantai15 atau 20an kali yaa dan akhirnya si Sekretaris bergelantungan di pinggir jendela..MBAK MAU CARI UDARA SEGAR ATAU EMANG CARI MATI CEPET! Jadi kan aku bingung mau si embak ini apa, minta diselamatkan dari asap-asap, tapi kok tiba-tiba lompat, begitu gelantungan dan berhasil dipegangin, minta dilepas aja…mungkin dia capek disuruh akting di film dengan plot begini.

Sebenarnya masih banyak lagi bagian yang ingin membuat saya teriak di bioskop “FILM BEGINI AMAAAT!”.

Juga buat saya yang nggak terselesaikan dengan baik dan cerdas--kalau cerdas berfilosofi tinggi memang tujuannya—adalah artikel yang menjadi premise film ini, ‘would the world be better without Islam’. Tentu saja di akhir film, jawaban dari angle artikel yang dituliskan Hanum adalah ‘Tidak, dunia tidak akan menjadi lebih baik apabila tidak ada Islam’, tapi narasi yang ditampilkan nggak terasa bahwa itu hasil analisa yang baik dari Hanum setelah mewawancarai keluarga yang dianggap teroris, juga Michael Jones yang kontra dengan muslim. Ya selama adegan Hanum bersama keluarga yang menjadi narasumber, cara dia mewawancarai, pertanyaan yang diajukan nggak seperti idealnya jurnalis, bahkan lebih banyak curhat yang terjadi ke narasumber tentang suaminya yang nggak mau nemenin.

Intinya, film ini buat saya terlalu berusaha ‘dalam’ penuh makna dan nilai tinggi, tapi penjelmaannya super dangkal dan terlalu menyederhanakan isu yang kompleks. Kalau mau berargumen, kenapa dunia nggak bisa lebih baik tanpa Islam? Melihat kenyataan banyak perang dan kesewenangan yang terjadi, khususnya di negara yang mengutamakan keislaman. Seharusnya Hanum tetap memberikan tempat untuk gagasan ini, bahwa bisa saja dunia lebih baik tanpa Islam atau lebih baik tanpa agama sekalipun, tentu kalau pilihan hidupnya adalah lebih baik dengan Islam nggak masalah. Atau kita pikirkan bersama saja pertanyaan tersebut, dan silahkan rumuskan jawaban masing-masing.

Mengaitkan dengan kata awal dari judul film ini 'Terbelah', mungkin saya harus terbelah dengan orang seperti Hanum, kalau jenis orang ini adalah yang terus memaksakan nilai yang ia pegang ke orang lain.


*Belah duren ala Jupe.

No comments:

Post a Comment