11/18/15

Theatre watching - Ed Fringe 2015

Masih melanjutkan catatan perjalananku di Edinburgh--mungkin nggak selesai-selesai sampai tahun depan--kali ini saya ingin kembali menuliskan pengalaman menonton berbagai macam teater di Ed Fringe. Kemarin sih suda sempat menulis salah satu teater yang juga saya tonton yakni, 887, tapi dibuat terpisah sendiri karena sepesiaal!

Jadi, seperti yang sempat saya ceritakan sebelumnya bahwa di Edinburgh Fringe festival ini ada ribuan seni pertunjukan, dan penting untuk ditonton kalau mau memperluas wawasan di bidang ini. Selama berada di sana, total pertunjukan yang saya tonton adalah 28 jenis seni pertunjukan (tari, teater, komedi) dan yang terbanyak adalah teater. Ada 11 kelompok teater yang saya tonton, ada yang 'bagus banget', 'oke aja', dan 'buang waktu'.

1. Plague of Idiots 



Dari namanya aja sudah bersiap untuk melihat aksi tolol kan ya, dan memang benar, saya seperti nonton OVJ di Edinburgh. Tapi nggak bikin menyesal nonton ini, karena beneran bikin ngakak walau bercandaan slapstick ala Warkop DKI (tapi kita selalu ngakak kan lihat warkop?!), dan sebelum saya nonton teater ini, saya habis menyelesaikan keribetan pekerjaan, so it was a good relaxation.

Plague of Idiots ini kelompok 'badut' yang berasal dari Australia, Inggris, Italia, Perancis dan Swiss. Kalau baca biografinya, mereka semua ketemu di sekolah teater yang juga menelurkan Sacha Cohen alias si Ali G aka Borat. Cerita yang ditampilkan mereka adalah pelesetan dari naskah-naskah Shakespeare dicampur dengan humor warkop DKI--dorong-dorongan, joget, siram, semua slapstick keluar deh. Mereka juga 'ngerjain' penonton yang duduk di baris paling depan, nah saya nyaris duduk di depan banget karena sebelum masuk teater saya sempat papasan sama mereka dan mengajak saya nonton pertunjukan mereka, lalu saya bilang saya memang akan nonton, langsung mereka bilang "Okay! Great! just sit on the front row!"--untung otak berpikir cepat, pasti ini jenis teater yang hobi ngerjain penonton, ya bener aja, yang di depan kena sambit, didudukkin, disuruh naik panggung, joget dan sebagainya. Hamdallah yaa, aku tuker tempat ke belakang.


2. Hotel Paradiso


Mungkin pernah ada yang menonton naskah Hotel Paradiso dalam bentuk lain, yang saya tonton ini adalah penulisan naskah dari Familie Floz. Kelompok teater Jerman yang menggunakan topeng, dan pantomim dalam sajian pentas mereka. Humor-humor gelap juga saya saksikan di sini. I would recommend people to see this kind of performance.

Cerita Hotel Paradiso ini sendiri tentang sebuah penginapan di pegunungan Alpen dan dikelola oleh sebuah keluarga, mereka mencoba mempertahankan bisnis sambil menjaga sebuah rahasia seram di hotel tersebut. Jeng Jeng Jeng...


3. White Rabbit Red Rabbit

I LOVE THIS ONE! Ini sungguh unik, karena setiap harinya dimainkan oleh beda-beda orang dan spontan. Sebenarnya oleh tim produksi sudah ditentukan siapa saja pemainnya--karena di Edinburgh harus dipentaskan selama sebulan, maka mereka memilih banyak pemain--namun, para aktor/aktris yang ditunjuk ini tidak mengetahui isi naskahnya sampai hari pementasan dimulai, beneran pas mereka naik panggung baru dikasih naskahnya! No directors, no rehearsals, no set or whatever,
Sehingga, kalau penonton nonton ini setiap hari, maka bisa merasakan perbedaan suasanan yang ditimbulkan oleh tiap aktor/aktris.

Penulis naskahnya bernama Nassim Soleimanpour, asal Iran, ia tidak hadir di setiap pertunjukan karena memang ia berada di Iran dan dilarang berpergian oleh pemerintahnya, akibat dari naskah-naskah yang ia tulis, memprotes secara eksplisit-implisit tentang pemerintah Iran. Tapi naskahnya berhasil 'keluar' dari Iran dan ditampilkan di banyak negara dan sudah diterjemahkan ke hampir 15 bahasa. John Cusack pun pernah ikut mementaskan naskah ini.

Naskah White Rabbit Red Rabbit ini pun menceritakan bagaimana kalau seseorang berada di dalam lingkungan yang oppresive, aktor/aktris seperti membaca sebuah surat dari Nassim dan disuruh melakukan hal macam-macam, juga berinteraksi dengan penonton yang ada saat itu. Pesan yang saya tangkap dari pementasan ini adalah Nassim ingin menyebarkan pesan bahwa masih banyak penindasan yang dilakukan dimana-mana sampai sekarang.


4. Jekyll

Dipentaskan oleh Hypnotist Theatre, jeleeeeeeeeeek! Sebenarnya karena harapan tinggi aja sih, dan ketika saya nonton seperti melihat pertunjukan anak SMA/SMP baru mulai main teater. Idenya oke, menginterpretasi cerita Jekyll/Hyde ke dunia modern, tapi eksekusi pemainnya kok kurang, aktingnya seperti sinetron. Kurang lebih sama, cerita tentang orang dengan split character, dan di sini dia terkenal karena punya acara motivasi ala Mario Teguh gitu *kok mau ngakak*, tapi akhirnya jadi seperti senjata makan tuan. Nggak ada yang terlalu spesial lah dari pentas ini.

Next!

5. Fiction



Yang ini tepatnya bukan menonton teater, tapi mendengarkan teater. Bingung ya. Oke, kenapa saya bilang mendengarkan, karena memang kita si penonton berada di ruang yang maksimal gelapnya, handphone aja minta dimatikan karena nggak boleh kecolongan cahaya apa pun. Lalu, akan diberikan headphone dan voila! the play commenced! It was intense, scary and shiz...



Penonton diminta angkat tangan kalau ada yang nggak kuat dan mau keluar, nanti kru akan nyamperin dan ngajak keluar. Saya bertahan, padahal rasanya udah mau pingsan saking deg-degan sepanjang cerita, dan dengan total darkness seperti itu, kalaupun buka mata malah terasa pusing, mana jarak antar penonton diatur nggak berdekatan, selalu ada satu bangku kosong, baru boleh isi sebelahnya.

Mereka bilang ini adalah pengalaman hyper-realistic binaural 3D sound, penyusunan suara di kuping kanan-kiri pun sangat baik, sampai saya beneran ngerasa ada perempuan berbisik di belakang saya! "sleep, sleep, it's okay, I'm with you" itu kalimat pertama yang saya dengar, jantung mau copot, saya sambil ngeraba-raba kiri kanan, karena takut dikagetin atau apalah, gilaa!

Project ini memang eksperimen antara art dan science, bentuk penelitian tentang mimpi, keadaan dimana orang tidur tapi bisa secara sadar merasakan mimpinya *I don't know what I'm talking and explaining here* Suasana atau cerita yang mau dibangun pun seperti layaknya mimpi, abstrak. Saya seperti dibawa ke hotel kemudian ke hutan, ada tembakan, gudang bawah tanah, dan akhir ceritanya pun tidak jelas, tapi kalau ditanya mau mengalami pertunjukan seperti ini lagi atau enggak, saya mau lagee!

6. Spilikin? A Love Story


Untuk yang ini juga kolaborasi art dan science, karena pemainnya adalah robot dan orang, mungkin itu adalah hal yang paling menarik untuk saya. Kalau dari segi cerita cukup aja, manis dan sedih. Kisahnya adalah seorang wanita yang mengidap alzheimer dan tinggal berdua dengan sebuah robot karya suaminya yang sudah meninggal lebih dulu. Robot inilah yang membantu si wanita tua bertahan hidup dengan kenangan akan suaminya, ya pada akhirnya nenek ini matilda jugii..



7. Sciene Trilogy - Tangram Theatre



Ini lucu nih broo, autobiografi penemu yang dikenang sepanjang masa; Albert Einstein, Marie Curie, dan Charles Darwin. Saya hanya sempat nonton yang Albert Einstein dan Charles Darwin, selain ketawa-ketawa, saya sambil belajar sedikitlah tentang para penemu ini, bagaimana proses Darwin sampai bisa menulis 'Natural Selection' dan Einstein tentang teori relativitasnya. Mana si aktor suka ngasih pertanyaan seputar penemu yang dia perankan secara acak, gua udah mules aja kalau sampai ke gua pertanyaannya, bisa tengsin..

8. China Doll

B aja! alias biasa banget untuk akting-nya, cerita juga agak kurang. Tentang perempuan yang hamil bohongan. Tapi kita dikasih whiskey, seneng deh..haha.



9. Thrones! The Musical

Seperti menonton Padhayangan project, properti dan kostum tak seperti harapanku, ternyata mereka asal aja buat kostum dan set-nya. Tapi bagi yang ngikutin serial Games of Thrones akan paham pelesetan ini! And it is very funny! Apalagi ada adegan antara fans sama GRRM bunuh-bunuhan, ketawa sampai rahang pegel.


10. The Bookbinder



Pertunjukan teater terakhirku! Ditutup dengan pertunjukan yang sempurna dari Trick of The Light Theatre, sederhana namun memukau. Hanya ada 1 aktor pencerita yang menggunakan properti sederhana untuk membuat ceritanya hidup. Anak-anak pasti suka sekali kalau didongengi macam gini ya..


Dari sepuluh, eh sebelas (Tangram dua kali kan) pertunjukan yang saya tonton, hampir sebagian besar memuaskan hati, rasanya bisa ya jadi kurator pilih-pilih karya :D

xx,

No comments:

Post a Comment