Pertama-tama saya salah terus cara penyebutan kata 'Ex Machina' ini, saya ngomongnya 'Eks Masyinaa', ternyata bukan yaa..malu deh..yang benar itu 'Eks Makina', noh sok enggres! Kayak ada temen gua (yakin bukan diri sendiri Dar?) baca 'Piano' dalam bahasa inggris itu 'Payano', padahal nggak semua 'i' di sebuah kata dalam bahasa inggris bacanya 'ai' kan..
Oke mari kita kembali ke..bahwa catatan saya ini bukan sebuah resensi atau ulasan film, tetapi ulasan untuk sebuah teater yang saya tonton di Edinburgh.
Pada tanggal 23 Agustus 2015, setelah keluar dari Edinburgh International Conference Centre, terjadi sesuatu pada diriku, sesuatu ini ku sebut dengan 'Badai Kognitif' alias bengong hebat yang diakibatkan terlalu terpukau pada seseorang, tak habis pikir bagaimana mencapai gagasan semacam itu dan mewujudkannya.
Seseorang itu--yang baru bagiku--adalah Robert Lepage, yakni aktor, sutradara juga penulis naskah asal Quebec-Canada, yang kemudian mendirikan sebuah theatre company--isinya terdiri dari orang-orang lintas disiplin ilmu; aktor teater, musisi, contortionist, computer-graphic designer, video artist, opera singers, set designers, teknisi dan penulis--bernama Ex Machina!
Kenapa pilihan namanya Ex Machina?
--In 1994, when Robert Lepage asked his collaborators to help find a name for his new company, he had one condition: the word theatre could not be part of the name.--
Lepage pun juga sepertinya ingin menerjemahkan dengan sungguh-sungguh makna latin Ex Machina, yakni 'god from the machine', dimana Robert Lepage sebagai artistic director dan seluruh tim dalam Ex Machina, memiliki keyakinan bahwa seni pertunjukan perlu berkolaborasi dengan disiplin lain (filmmaking, record arts, video arts) adanya pertemuan antara science dan penggubah sandiwara *nyanyi Panggung Sandiwara*, atau pertemuan antara pembuat set dengan arsitek.
Saya baru mengetahui adanya keberadaan seorang Robert Lepage dan Ex Machina-nya ini saat berada di Edinburgh kemarin, dan menyaksikan salah satu karya Ex Machina di Edinburgh International Festival berjudul '887'.
Mengapa '887'?
ini adalah nomor apartemen Lepage sewaktu kecil, pertunjukan ini ditulis atas dasar usaha Lepage mengingat kembali masa kecilnya hingga ia bisa menjadi dirinya yang sekarang. Ia yang dari keluarga miskin, bapaknya tidak bisa membaca dan bekerja sebagai supir taksi, hidup di apartemen kecil dengan bapak-ibu, beberapa kakak perempuan dan nenek yang mengidap alzhaimer. Kemudian perjuangannya bisa sekolah, karena saat itu pendidikan baik masih berpihak pada kelompok borjuis, sampai kepada refleksi seorang Lepage kecil tentang romantisisme ayah-ibunya. Seksualitas, gender, dan sebagainya..dan sebagainya..
Kisah ini hanya dimainkan oleh Robert Lepage seorang, dibantu dengan teknologi multimedia dan panggung yang canggih, dua jam menonton ia bermonolog, sesekali berdialog (ada adegan telefon). Saya menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil Lepage saat ia piknik bersama ayahnya dan melihat iring-iringan tentara, saat ada pemberontakan dan revolusi di Kanada dan semuanya terceritakan dengan baik tanpa ada aktor pendukung, adanya dukungan dari mesin dan kolaborasi otak antara segala desainer dengan segala tukang insinyur kayaknya. Bahkan, saking terpukaunya dengan sosok Lepage, saat dia muncul pertama kali dan menyapa penonton, saya nggak ngeh bahwa itu adalah bagian dari pertunjukan.
Akhir kata, setelah menyaksikan pertunjukan dari Ex Machina ini, banyak muncul keinginan di diri ini; menonton hasil-hasil karya Ex Machina/Lepage yang lain lagi, bisa membeli karya Ex Machina dan dibawa ke Indonesia, menyusun kolaborasi antar seniman Indonesia dengan kelompok Ex Machina, dan mimik-mimik cantik dengan Pak Lepage..
..karena kalau cuma foto berdua, ya aku punya!!
| ketika bertemu di hari penghargaan 'Herald Angel' |
Bang bang, my baby shot me down..
No comments:
Post a Comment