Berawal dari sebuah program pasar seni pertunjukan, Indonesia Performing Arts Market (IPAM) 2013, yang merupakan festival tertutup bagi publik, dimana menampilkan karya-karya terbaik dari seni pertunjukan Indonesia (musik, tari dan teater) secara live. Nah, siapa yang dianggap berkepentingan dalam menyukseskan program ini? mereka adalah para presenter (tempat-tempat yang menyelenggarakan kesenian, misal kayak Komunitas Salihara, TIM, mana lagi ya kalau di Jakarta....*anak baru), atau orang-orang festival internasional, khususnya orang yang menjabat sebagai direktur artistik di tempat tersebut, karena para direktur artistik inilah yang menyusun program, dan menentukan siapa saja yang bisa tampil di tempat mereka, dan diharapkan karya-karya yang tampil di IPAM ini mereka beli untuk dipentaskan di festival/tempat mereka.
Tujuan dari program semacam ini adalah arts for economic progress, kemajuan ekonomi sodara-sodara, pentingkan ya seni-seni ini, apalagi kalau bisa bantu kasih dorongan ke perekonomian negara. Jual-beli karya lewat festival-festival internasional.
![]() |
| cita-cita mulianya adalah menjadi bagian dari kekuatan baru! Mari kita simaklah ke-depannya begimana.. |
Pada saat IPAM 2013 tersebut, 30 karya seni pertunjukan Indonesia ditampilkan, banyak presenters asing hadir, juga beberapa pengelola festival dalam negeri. Di antara presenters yang datang, ada enam utusan dari UK--perwakilan dari empat presenters besar di UK--yang kedatangannya difasilitasi oleh British Council Indonesia. Empat presenters ini adalah Cryptic dari Glasgow, Southbank Centre dari London, Assembly Festival dari Edinburgh, dan Wales Millennium Centre dari Cardiff.
Para direktur artistik yang hadir ini sangat terpukau dengan pentas yang disajikan para seniman, hingga kemudian mereka memutuskan bersama untuk membuat festival khusus tentang Indonesia, yang akan diselenggarakan secara berturut-turut dari satu kota presenter ke kota presenter lainnya, semacam pentas keliling. Nah pentas keliling inilah yang menjadi dasar program UK Tour 2015, Discover Indonesia.
Grup yang berhasil lolos kurasi para direktur artistik ini dan ikut berangkat ada tiga; Kande-Aceh (musik), Papermoon-Yogyakarta (teater boneka), dan Soeryo Soemirat-Solo (tari klasik dari keraton Mangkunegaran)
Singkat cerita, 2013-2014 mulai gaduh menyusun segalanya; anggaran, pemilihan tim produksi dan printilan lainnya yang bikin diare, hingga akhirnya masuk tahun 2015, di mana bulan Agustus-September 2015 program ini akan berlangsung! Inilah saat aku memasuki tahap kegilaan administratif dan mempelajari program di tiap kota..
Tur dijalankan dengan jalur seperti ini; dimulai dari Edinburgh - London - Glasgow - Cardiff, turun naik turun ya mak ya.
KOTA 1: EDINBURGH
![]() |
| Hello Edinburgh! |
Awalnya tur ke Edinburgh ini menjadi bagian dari Assembly Festival yang termasuk dalam rangkaian Edinburgh Fringe festival--sebuah festival seni terbesar dan tertua sedunia (berlangsung sejak pasca PD II,1947)--karena suatu hal, Assembly mundur. Akhirnya saya dan ibu kepala proyek, bergerilya cari ganti pengelola di Fringe festival yang mau menampung program ini supaya tetap berjalan sesuai rencana. Bertemulah kami dengan Direktur Artistik C Venues Festival, yang setelah melihat karya seniman terpilih, bersedia membawa program itu tampil di tempat mereka.
| C venue-Chambers street, venue kami! |
Oya, sekilas tentang Edinburgh Fringe festival, Assembly dan C venues ini hanyalah sebagian kecil penyelenggara yang nge-ramein EdFringe (kata pendek-nya), total karya dan seniman yang tampil di sini bisa sampai 3.000an. EdFringe festival ini bersifat terbuka,perlu membayar biaya registrasi dan tidak diseleksi, kecuali menyasar venue-venue yang punya artistic director model C dan Assembly.
EdFringe berlangsung selama sebulan penuh di bulan Agustus, jadi pas bulan ini kota Edinburgh ruamee minta ampun! Seluruh elemen kota ikut partisipasi, universitas menjadi tempat pentas, restoran, toko buku, semua menyediakan ruang untuk para seniman pentas. Saya sempat nonton teater-monolog di ruang kelas kuliah dan laboratorium fisika, gokil yaa..sayang di dalam ruangan pentas nggak diperbolehkan motret, biar konsentrasi menonton (iyalah, ini yang penting!) C Festival pun mengubah beberapa gedung sekolah, kantor dan Bar jadi venue mereka, salah satunya C venue di Chambers Street tempat Kande dan Papermoon pentas.
EdFringe festival sangat cocok untuk ajang promosi para seniman awal/emerging artists (seni pertunjukan khususnya), karena festival ini banyak didatangi promoter atau pengelola festival internasional berskala besar juga produser film/musik. Kalau nggak salah Mr.Bean adalah 'lulusan' EdFringe..tenar kan doi sekarang.
Nah, berhubung EdFringe terbuka bagi siapa saja, segala urusan pentas, kita sebagai partisipan mengurus sendiri segala sesuatunya, dari mulai urusan marketing, produksi pentas dan logistik dilakukan sendiri. Panitia EdFringe sih ada, tugas mereka mengatur dan mendata pendaftaran, juga untuk membantu kita dengan rekomendasi penginapan, venue pentas yang oke, tempat cetak flyers/poster, sampai rekomendasi agensi Humas kalau mau dibantuin pengelolaan publikasinya, tapi untuk negosiasi dan teknisnya dikerjakan sendiri.
| For audience |
| Kantor Fringe Society (panggilan untuk panitia EdFringe) |
Menurut saya, yang paling banyak menyita waktu adalah urusan pentas di Edinburgh ini, karena semua-muanya sendiri. Untungnya pengelolaan EdFringe ini sudah sangat mapan sistemnya, semua dapat diakses online, walau begitu ada malam-malam yang saya harus begadang untuk conference call karena menyesuaikan dengan jam kerja orang UK!
Tahap awal ikut serta EdFringe adalah dengan daftar online ke website Edinburgh Fringe. Berdasarkan pengalaman pertama ini, paling enak mendaftar ke venue yang punya festival dan tim artistik sendiri, seperti C venue dan Assembly (..dan masih banyak lagi), karena panitia mereka akan membantu mengisikan form online di web EdFringe festival, walaupun kita sendiri harus mengisi formulir venue mereka juga--tapi lebih sederhana dibanding form EdFringe.
Ini adalah kitab bagi pengunjung EdFringe, di dalamnya ada list ratusan pertunjukan, sampai gue pusing semua pingin ditonton! Tapi uang terbatas kan yaa. Buku ini berisikan kumpulan seluruh pentas selama sebulan, dari mulai kategori Tari, Kabaret, Stand-up Comedy, Teater, Physical Teater, Diskusi Buku, Seni Rupa, Musik dan sebagainya yang terhitung seni pertunjukan.
Jadi jelang musim panas di Edinburgh, nggak cuma ada EdFringe festival aja, ada Edinburgh International Festival (EIF) yang kelasnya lebih sophisticated, dimana yang tampil di situ semacam Juliette Binoche, Robert LePage (pokoknya nama-nama super beken) kurasi yang super ketat, harga tiket dan venue pun beda jauh (antara proletar dan borjuis deh). Lalu ada Edinburgh International Book Festival dan Edinburgh Art Festival--semuanya terjadi di bulan yang sama, pusing nggak loo pengen nyamperin semuanya!
Sedihnya saya nggak sempat ngeliat Art dan Book Festival-nya, karena jadwal padat. Selain urusan pentas grup yang dibawa, saya sibuk nonton pertunjukan macam-macam di EdFringe juga di EIF, demi memperkaya referensi (kayaknya saya akan menulis di catatan terpisah tentang acara-acara yang saya tonton nih).
Kembali ke EdFringe dan persiapannya, tim produksi hanya berjumlah 3 orang (termasuk saya). Ibu Kepala Proyek dan saya menangani hal-hal berbau kontrak, anggaran dan implementasinya, publikasi dan logistik, kemudian 1 orang lagi fokus pada teknis (yang ketika sampai Edinburgh semua bisa bantu apa saja, keputusan tetap di ibu Kepala).
Begitu sampai di Edinburgh yang paling bikin penasaran adalah akomodasi. Apakah apartemen yang disewa betul seperti digambar? ...ternyata lumayan, yang tak kuduga adalah apartemen buat saya ada di lantai 3 tanpa lift *pingsan angkat koper 24 kg+ransel 7kg*, dan tempat pengambilan kunci apartemen ada di gedung yang lokasinya jauh ke bawah. Jadi ambil kunci, geret koper di tanjakan yang jalannya nggak mulus, terus naik lagi tiga lantai dengan tangga melingkar curam!
Selain itu adaptasi dengan musim panas dan peralihan masuk musim dingin, cerah tapi dinginnya menusuk, dan saya belum terbiasa dengan siang yang lama. Jam 10an malam matahari baru tenggelam, aku suka tertipuu kirain masih jam 3 sore, tauknya udah masuk makan malam..
| Inilah tangga syaiton itu, tiap hari naik turun ginian (maaf objek lain aku samarkan yaa, haha) |
| Rusun banget yaa, ini perbuatan 3 orang penghuni |
| Jendela kamarku, tiap subuh dibangunin teriakan orang mabok! |
| Kamar saya! cimit bingit |
| Lorong dalam |
| Pintu depan apartemenku, hello 39/10 |
Di Edinburgh kemana-mana jalaan kaki, karena tempat-tempat yang seru dan venue-venue besar nggak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Seneng bangeet, karena didukung udara yang super segar! paling hujan sih ya--namanya juga Skotlandia.
| Hachiko-nya Skotlandia |
Saya sampai Edinburgh duluan, untuk cek semua persiapan pentas dan publikasi, apakah sudah siap sesuai pesanan, yah satu-dua masalah ketemu, tapi selalu bisa diatasi (untungnya! ada hari-hari yang saya hampir bunuh diri karena ribet dan tegang). Hal pertama yang krusial adalah cek materi publikasi, apakah sudah disebar atau belum.
Persaingan ketat! 3.000 pertunjukan semuanya berlomba-lomba pasang poster supaya yang nonton banyak.
| Hampir tiap pojok Edinburgh penuh poster |
| Spot our poster? |
| Pusing-pusing pilih-pilih |
Ini penting, karena rebutan penonton dengan semua penampil. Strategi yang paling sering dilakukan adalah sebar poster di cafe/resto/toko buku (dengan izin pemilik), bagi-bagi flyers ke orang yang lewat sambil ngamen/drama-drama di jalanan (roving).
| satu drama, satu lagi bagi flyers ke orang-orang |
| Ini adalah Royal Mile tempatnya orang roving-ngamen |
Pasar Seni Ancol, pindah ke Eropa!
| Mendung Skotlandia |
Tim Indonesia sendiri bagaimana?
Papermoon dan Kande pentas di tempat yang sama, hanya beda jam aja. Kande jam 7.30 malam, Papermoon jam 10.00 malam. Mereka pentas selama 2 minggu lebih, setiap hari! Yang lebih 'spektakuler' adalah setiap malam itu juga kami bongkar pasang set, karena harus gantian dengan penampil lain, jadi nggak ada set yang tetap di panggung, hanya bisa disimpan di ruang-ruang belakang panggung. Waktu bump-in/out masing-masing hanya 10 menit untuk Papermoon, dan 5 menit untuk Kande. Hahahaha *ketawa mau gila kalau ingat* pengalaman tercepat saya dalam bongkar pasang sebuah produksi, dan salut pada mahasiswa Indonesia di sini yang mau jadi volunteer. Di sini kami belajar lagi tentang efisiensi, dan banyak catatan penting bila mau partisipasi di Edfringe lagi. Nggak cuma soal teknis tapi juga karya yang di bawa ke sini, yang pasti karya yang atraktif (nggak usah yang bikin mikir berat atau perlu konsen nalar tinggi) juga dari segi teknis harus bisa dibuat fleksibel.
Kami juga tiap malam harus memantau penonton, udah berapa orang yang beli tiket, kalau belum banyak, harus atur strategi ulang. Penonton paling sedikit yang dialami adalah di hari terakhir (31 Agustus) karena udah banyak pengunjung juga penampil itu sendiri yang kembali pulang, tebak yang nonton berapa? 3 orang! di dalam ruang berkapasitas 80 kursi..krik krik krik.
| Ruang untuk Papermoon, bongkar boneka, bangun set |
| siap pentas |
| tiap malam, bongkar pasang, sedep dah! |
| menunggu sebelum masuk |
| antri masuk |
| Curtain call Papermoon |
| Mbak rambut merah itu, sempet nangis sesenggukan |
| Persiapan pentas Kande |
| Kande saat pentas |
![]() |
| Bagi-bagi flyers supaya pentas rame |
![]() |
| Moyo daydreaming |
![]() |
| Tupu says 'hi' |
Mwathirika karya Papermoon sangat menyentuh orang-orang yang menonton, sejarah kelam memang selalu menarik jadi bahasan, atau sekedar berbagi empati. Apalagi dikemas dalam teater boneka non-verbal dan visual kesedihannya dapet banget. Saya sudah pernah nonton Mwathirika di jakarta, lalu di EdFringe setiap malam selama 2 minggu, tetep aja sedih. Buat penonton asing banyak menimbulkan pertanyaan 'ada apa di Indonesia waktu tahun '65', banyak juga yang pingin ke Indonesia (sukses ya diplomasi budaya-nya)
Kande pun juga banyak dapat pujian, puncaknya mereka berhasil dapat award dari sebuah media di UK The Herald, nama penghargaannya 'Herald Angels' untuk penampilan musik terbaik. Horee! Sayangnya pada saat penyerahan Kande nggak bisa hadir, jadi geng produksi yang mewakili, akhirnya kita jadi bisa ketemu sama seniman-seniman canggih yang dinobatkan juga *menangis
Di luar urusan pentas dan program, saya amat sangat belajar mandiri, bukannya di Jakarta nggak mandiri sih, bedanya di sini nggak tinggal di rumah orang tua, dan memaksa saya untuk MEMASAK! Sebenarnya saya sudah berhitung kalau makan tiap hari beli di luar, tapi demi bisa menonton banyak pertunjukan, lebih baik kita hemat!
Urusan nonton banyak hal menjadi sangat penting karena di sinilah banyak karya eksperimental ditampilkan, apalagi kalau udah sekelas EIF!
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Edinburgh International Festival punya manajemennya sendiri dan area kantornya sendiri. Buku program mereka pun ada ciri khas, setiap tahun pasti ada penampil di EIF yang dianggap berkarakter super kuat, mereka ini kemudian dijadikan ikon EIF dan difoto sebagai cover buku program.
| Aku dan geng Papermoon - Mandatory photo, di depan wajah-wajah ini. Bisa tebak siapa aja? |
Oya! Canggihnya sistem festival yang berjalan di Edinburgh salah satunya pengelolaan sampah. Begitu banyak poster dan flyers hilang dalam satu hari, masih ada yang tersisa kadang-kadang tapi nggak banyak. Para penampil atau pendatang yang masih punya tumpukan flyers harus dibuang di area yang ditunjuk sebagai tempat recycle, dan orang-orang di situ bekerja efisien dalam mengemas sampah kertas dan kardus.
![]() |
| pic from Google |
![]() |
| pic from Google |
Harapanku, musim panas tahun depan bisa kembali ke Edinburgh! Aku suka Skotlandia, merdeka aja deeh yaa! *lho kok..
Daah, pindah kota dulu, see you soon London!







waw Amazing, i wish suatu saat nanti akan ke sana ^^
ReplyDeleteDepok|| Trenggalek