8/24/15

So You've been Publicly Shamed

"The powerful, crazy, cruel people I usually write about tend to be in a far-off places...the powerful, crazy, cruel people were now us."--Jon Ronson.

Kebetulan amat di Edinburgh Fringe dia hadir di salah satu cabang acara, yakni Spoken Word. Untuk memaparkan buku barunya berjudul 'So You've Been Publicly Shamed', langsung lah saya berangkaat!

Isu yang dibahas sungguh menarik...

Ingat dengan Justine Sacco? salah satu yang pernah bikin heboh pengguna twitter, karena dia nge-twit begini:


Setelah nge-twit ini, dia boarding pesawat lalu cuusss terbang, tanpa tahu selama dia terbang berjam-jam, dunia heboh karena twit-nya yang dianggap rasis. Pokoknya dia langsung jadi headline berita akibat candaannya sendiri di twitter.

Nah! buku baru Jon Ronson ini berisi pemikirannya, juga kesimpulannya atas wawancara yang ia lakukan dengan Justine Sacco dan orang-orang yang mengalami hal serupa; dihajar netizen! sampai kehidupannya sendiri nggak bisa ia kontrol.

Jon Ronson menjelaskan bahwa setelah kejadian twit ini, Justine dipecat dari pekerjaannya--kalau nggak salah sampai buku Jon Ronson ini terbit dia masih belum punya pekerjaan--dia juga mengalami depresi berat, nggak berani keluar rumah, bahkan dapat ancaman perkosaan.

Jon Ronson mempertanyakan motivasi kita--sebagai masyarakat pengguna sosial media--yang ramai-ramai gemar menghakimi, sosial media sebagai kekuatan demokrasi yang kadang disalahgunakan.

Dalam tulisannya, Jon Ronson selalu membawa saya dalam kebingungannya tentang suatu fenomena, kemudian diajak bertemu dengan para narasumber, dan menyaksikan ia bertanya dengan tajam atau kadang sinis (tapi si narasumber nggak ngeh), dan pada akhirnya mengingatkan saya, bahwa sebagai manusia kita selalu berada dalam area abu-abu..and please be mindful, always.

One tweet that can ruin your life, saat ini banyak nih kejadian atau kerusakan akibat tidak berpikir panjang, dan saya rasa banyak yang selalu mengedepankan emosi dibanding logic--termasuk saya sendiri.

Ronson juga bercerita, ia sempat ingin mewawancarai salah satu orang untuk bukunya ini tapi nggak berhasil, kisah orang ini juga menarik; Perempuan ini suatu kali menulis status di laman Facebook miliknya, bahwa ia mengalami diskriminasi oleh seorang laki-laki di sebuah kantor imigrasi. Entah bagaimana, screenshot status FB-nya menjadi viral, dan semua orang mengutuk laki-laki tersebut, sampai ada yang berhasil nge-tag si laki-laki ini, juga kantornya memecat si laki-laki. Kemudian laki-laki ini menulis permintaan maaf di status FB-nya dan bunuh diri. Berita ini sampai ke si perempuan yang pertama menulis keluhannya di FB, membuat dia jadi resah sendiri, dan netizen balik menyerang dia...INI GIMANA SIH?!

Anyway, Ronson nggak membahas betul-salah tweet orang-orang ini, tapi kembali pada bagaimana society, peer pressure menyalahgunakan kekuatan demokrasi yang ada saat ini.

Saya cukup beruntung bisa mendengarkan rangkuman pikirannya secara langsung, tapi ia juga berbicara hal ini di TED, jadi ada dokumentasinya deh kalau mau didengerin ulang.



why we did that? should we go back to being voiceless?



No comments:

Post a Comment