Albert Camus, nama ini sih nggak pernah akrab di kupingku, cuma sering lihat judul bukunya di beberapa rak buku orang dan perpustakaan.
Akhirnya, baru di seminggu yang lalu, saya selesai membaca salah satu karya Camus "The Stranger" dalam terjemahan bahasa indonesianya, "Orang Asing". Setelahnya, saya berpikir, kayaknya Camus akan menjadi salah satu yang filosofi hidupnya akan saya pinjam deh. Dalam perihal menjalani hidup supaya tetap jadi penyintas alias survivor kan yaa.
Dalam "Orang Asing", Camus membuat seorang tokoh bernama Mersault yang digambarkan seperti dingin tanpa perasaan--menurut orang kebanyakan; ia dituduh tak punya perasaan karena tidak menangis saat ibunya meninggal, dan karena meletakkan ibunya di panti jompo, yang kalau menurut Mersault, ibunya menjadi lebih baik ada di panti jompo karena memiliki lebih banyak teman, dibandingkan tinggal dengan dirinya di apartemen kecil dan selalu ditinggal setiap hari karena bekerja.
Ada kemiripan sedikit yang terjadi di hidup saya, yakni ketika ibu saya sakit, dan saya memutuskan untuk dirawat inap saja supaya ada suster yang bisa jaga di jam-jam tertentu (jam kerja sih 10.00-18.00an) karena saya dan adik kesulitan untuk bisa seharian izin nggak bekerja dan menjaga ibu saya, walau kita berdua tetap bergantian jaga dan menginap setelah pulang kerja. Ini langsung agak di-judge sama tante-tante dong ya, sebagai anak yang kurang peduli. But who cares! Alasan saya; ketika menjaga orang sakit tapi sesekali diganggu pekerjaan, akan mengganggu emosi saya, jadi lebih cepat lelah dan marah, dan ini bisa jadi akan berpengaruh buruk juga ke energi ibu saya (mulai bicara zen-zen-an ya). Ketika saya nggak bisa mengelola diri sendiri terutama emosi, maka biasanya pertimbangan dalam melakukan apa pun jadi buru-buru dan nggak matang, terus efek domino ke yang lain-lain deh. Nah! Masa gitu aja pada nggak paham sih! Kesel kan gua..
Jadi, ketika membaca buku Camus dan tentang Camus sendiri, di saat letih menghadapi orang-orang yang kebanyakan meromantisir kehidupan antar keluarga atau pasangan, langsung sepakat dan merasa seperti disuarakan dengan baik. Apalagi di akhir-akhir ini, saya lagi banyak pingin komplain tentang hidup di Jakarta yang makin menurunkan kualitas hidup karena macetnya! Saya coba mendesain kira-kira solusi apa yang bisa diambil; kos? atau Go-Jek tiap hari. Kos setelah berhitung ternyata mahal juga ya, akhirnya Go-Jek aja, yang juga bikin tersiksa kalau siang hari (ampun climate change and global warming!), tapi ini solusi terbaik yang bisa saya ambil. Duh rasanya sih pingin negatif terus..
Lalu di sinilah tawaran filsafat hidup Albert Camus masuk,
"We are like Sisyphus, the Greek figure ordered by the
gods to roll a boulder up a mountain and to watch it fall back down
again – in perpetuity."
Dengan analogi ini, kemudian Camus menyarankan untuk bisa mengatasi dan terus lanjut dengan menyadari absurditas hidup and then triumph over the constant possibility of hopelessness. Formulanya:
“One must imagine Sisyphus happy.”
Kalau balik lagi melihat salah satu kejadian yang ada di dalam bukunya "Orang Asing", bahwa Mersault melihat hidup itu sebagai proses pembiasaan diri. Ketika dihadapkan sama keadaan nggak enak, misal penjara--Mersault dipenjara karena menembak seorang Arab--lama-lama kita juga akan biasa. "...one can get used to just about anything". Menurut saya, inti dari buku ini juga tentang 'kebebasan'. Menariknya ketika Mersault dipenjara dan kebebasannya terenggut, ia tidak menyadari perbedaan antara kehidupannya yang bebas dulu dengan kehidupannya yang terpenjara.
Pahit amat ya orang ini.
Lalu posisi Tuhan dan doa ada di mana dong? untukku tetap ada, tanpa perlu saya jabarkan panjang lebar, karena begitu masuk ranah sana, rasanya udah super personal. Kalau si Mersault sih udah menyangkal habis-habisan keberadaan Tuhan, di bab terakhir, saat dia mau menjalani hukuman pancung, dikirim seorang pendeta untuknya--maksud hati supaya berdoa--eh malah dimarahin.
Mau se-atheis apapun, buat saya, Camus dan buku-bukunya layak jadi bahan pemikiran, di saat kebanyakan orang terlalu sering mendengarkan Mario Teguh, Mamah Dede, atau ustad/motivational speaker lainnya yang nggak realistis. Mungkin saya aja yang nggak cocok sama mereka sih, dan Camus penampakannya lebih oke :D
I guess, this is, again, my menstrual cramps talking.

No comments:
Post a Comment