3/7/13

Obrolan Lajang & Eks Parasit Lajang

Ayu Utami, dulu adalah nama yang saya kenal karena novel yang dia tulis "Saman" saat terbit di tahun 98/99 (ya bukan?) cukup menghebohkan. Saya di tahun itu coba baca, tapi kurang begitu paham ini novel apaan sih..hahaha, karena nggak terbiasa baca novel yang 'model' penulisannya kayak gitu kali ya, lebih sering baca novel-novel pop nan gampang dicerna.

Ketika saya berada di satu lingkungan dengan doi, saya suka merhatiin orang ini. Memang interaksinya nggak sering, biasanya kalau ada acara-acara tertentu aja, anyway, makin hari saya makin seneng liatnya, perempuan ini auranya oke rio banget, karena cerdas dan fit bingit! Ayu Utami masih keliatan kayak remaja aktiviaaa (nyebutnya harus kayak temen saya Angga), kebalikan banget sama saya yang leysia banget sama olahraga, sementara doi penggila olahraga, lari, naik gunung sampai panjat tebing, kalau saya yang begini, udah dijamin saya pasti udah pacaran sama Bucek Depp.

Baru-baru ini, Ayu Utami meluncurkan 2 buku; Parasit Lajang (diterbitkan lagi dengan cover baru) dan Eks Parasit Lajang. Saya diberikan dua buku ini secara cuma-cuma. Asik. Memang saya telat banget, baru baca buku Parasit Lajang ini sekarang, tapi pas lah, menggambarkan keadaan sekarang, disaat semua teman-teman saya sudah berkeluarga, buku ini menghibur...yah walaupun saya nggak lajang-lajang amat cuman belom nikah aje :p

Saya hanya mau menuliskan betapa setelah baca dua buku ini saya makin sukasuka sama doi. Kalau Parasit Lajang, adalah essai pendek yang mengkritik rutinitas dan konformitas yang terjadi (saya bangeet! konformis),  nah kalau Eks Parasit Lajang adalah sebuah Pengakuan, jadi saya kayak baca buku harian Ayu Utami, buku harian yang isinya kayak makalah kuliah filsafat.

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini bisa jadi jawaban buat orang-orang yang nanya kenapa akhirnya Ayu Utami mengakhiri masa lajang, setelah berkoar-koar nggak mau nikah. Silahkan baca sendiri bagi yang berminat ya..

Kenapa saya bilang saya makin suka dan kagum sama orang ini setelah baca bukunya ini, bukan karena seperti dapat dukungan moril karena belum menikah, tapi salah satu yang saya dapat dan yang saya amat setuju dengan pemikirannya adalah memanusiakan manusia, dimana saat ini manusia (menurut dia) sudah seperti komoditi, dilekatkan dengan nilai, nilai sempurna dan nilai tidak sempurna, sistem nilai sepeti inilah yang ingin ia ubah..

Di salah satu bab Eks Parasit Lajang:

"Tapi pengalamanku yang sebentar di dunia model itu dan perpindahanku ke dunia tulis menulis memberiku pelajaran berharga. Aku jadi tahu bahwa setiap lingkungan memiliki nilai-nilainya sendiri. Di dunia peragawati manusia dipuja berdasarkan kaki panjang yang dimiliki. Di dunia tulis menulis berdasarkan banyak buku yang dibaca atau ditulis. Di tempat lain dengan kriteria lain. Setiap nilai memiliki pemenang dan pecundangnya masing-masing. Di situlah aku berpikir bahwa, demi keadilan bagi setiap manusia, memang sebaiknya ada banyak sistem nilai. Sehingga, orang yang terpinggirkan di satu sistem nilai bisa mendapatkan tempat di sistem nilai yang lain. Setidaknya, memperkecil kemungkinan orang terpinggirkan. Tak ada manusia yang ingin terpinggirkan. Dan jangan kita mencoba mencari totalitas nilai. Jangan kita membikin hirarki kesempurnaan. Dari pengalaman inilah aku sungguh-sungguh percaya bahwa keberagaman itu perlu demi keadilan dan kemanusiaan."

Merdeka!

Ya begitulah, ini salah satu yang 'kena' di saya dari beberapa hal lain yang doi tulis. Ada hal yang saya nggak sependapat juga, tapi intinya Ayu Utami buat saya sosok dekat yang mencerahkan. Cring Cring Criing...

Dan suatu hari kami berdua di dalam taksi (ditulis biar keliatan ikrib bingit), ikut sepakat, bahwa kesempurnaan jangan-jangan memang hanya milik bunda Dorce. :D


No comments:

Post a Comment