secuplikan isi si SMS subuh ini; "...seneng itu gampang..fulfillment itu susah.", langsung bertanya sama diri sendiri juga, apa betul susah ya? hidup saya ini udah fulfilled belom sih? atau pernah merasa fulfilled nggak sih, sekali aja dalam hidup eike ini? tapi merasa fulfilled sama memang fulfilled itu beda ya?
Fulfillment ini coba didefiniskan dulu dweh, kalau bahasa Indonesia-nya sih "pemenuhan", penuh akan apa, kalau penuh akan lemak di tubuh ini, yastralah, berarti belum fulfilled, kurus begindang. Sekarang makin banyak motivator, dan orang-orang yang menyuarakan "find your passion! follow your passion!" if I find my passion, should I be happy? or being fulfilled is the ultimate happiness?
am I not happy?
Kalau mencoba berfilsafat ala Plato "Sejauh yang paling sejati dari jiwa manusia adalah rasionya, maka hidup mengikuti tuntutan rasio artinya berkeutamaan. Dan orang yang berkeutamaan dengan sendirinya akan berbahagia." apa lagi keutamaan? intinya bisa mewujudkan semua potensi secara baik, optimal, dan maksimal. Seperti telinga, keutamaannya bisa mendengar dengan baik. Berhubung manusia ini nggak sesederhana makhluk hidup lain (tumbuhan, binatang), nggak cuma berjalan memenuhi kebutuhan lahir, tapi ada jiwa/batin/perasaan/pikiran (yang susah dilihat secara fisik), jadi yang harus dioptimalin banyak. Tapi katanya semua bermula dari dalam jiwa, dan sejauh yang sejati dari jiwa adalah rasio, maka utama berarti berfungsi optimalnya pengetahuan dan refleksi rasional. Memiliki keutamaan, artinya ketika atas dasar pengetahuan (kebijaksanaan), secara rasional manusia mengerti apa yang menjadi tujuan yang hendak ia capai dan sarana yang mesti dipilih untuknya.
Yang terbaik atau yang paling optimal bagi jiwa, menurut Plato, adalah ketika ada tatanan harmonis. Ketika semua “bagian” jiwa, epithumia, thumos dan rasio bergerak harmonis, di situ manusia bersifat adil.
Keadilan, merujuk pada sebuah makalah yang ditulis Romo Setyo (saya nih mulai lintas agama ) adalah kebenaran dan ketegakan hubungan dengan sesama dan yang Ilahi. Dimana orang yang tatanan hidupnya udah harmonis, nggak akan membalas tindakan buruk dengan keburukan. Disini seseorang berkeadilan dan berkeutamaan.
saya setuju, apabila berkeadilan itu berkeutamaan dan bisa dengan sendirinya membahagiakan dan “penuh”. Coba ya, saya mencoba mengingat, ketika saya diperlakukan jahat, terus saya balas jahat juga, puas atau “penuh”-nya sebentaran aja, dan nggak dapet apa-apa…tapi mengendalikan hal-hal seperti ini susah. Kalau gitu betul, menuju fulfillment itu susah,
Berbagi
dengan orang lain (yang baik), bisa jadi dengan sendirinya menjadi suatu
“pemenuhan”, kalau diliat aneh ya, makin berbagi makin penuh, padahal kita
ngasih ke orang sebagian yang punya kita, harusnya makin berkurang. Teka-teki
penciptaan jiwa manusia lah ini.
Jadi..
Ngemeng
panjang lebar gini, sebenernya adalah pembuka obrolan menuju lebaran haji atau
Idul Adha, dimana saya sebagai umat muslim akan melakukan potong kurban. Nah,
perlu cari hewan kurban yang sehat, asoy dan harga-nya boleh diadu, bisa
hubungi temen satu geng saya..Gemma.
Beginilah
kalau makelar berbasis agama.
Injustice can never be more profitable than justice. Do unto others as you would have others do unto you.
Cheers,
:)
No comments:
Post a Comment