5/4/11

BLEH!


Seperti pepatah klasik Sun-Tzu “ Keep your friends close, and your enemies closer” - konteks nya mirip-mirip seperti ini deh, walaupun nggak ada yang saya musuhin..(dalam hati teriak "Bohooooong!")

Pokoknya demi menyelami perilaku para seniman, sekalian aja masuk ke dalam salah satu “tongkrongan” atau pusatnya, dimana dedengkot-dedengkotnya ngumpul.

Dan begitu masuk tempat ini, the so called art centre..dalam hati heboh sendiri. Heboh entah kenapa, random feeling-lah, mungkin di karenakan baru lepas dari cengkraman keseragaman menuju keberagaman. Culture Shock ya. Kerjanya langsung ikut-ikutan nonton pertunjukkan Tari, Musik, Teater kontemporer. Yang selalu sukses bikin bengong, antara terpukau sama nggak ngerti maksud yang disampaikan.

------

Ini adalah cuplikan pidato pembuka dari empunya tempat kesenian ini :

Sejarah mencatat, sekitar 2.540 tahun lalu Siddharta Gautama bersemedi di bawah pohon jenis ini. Di sanalah ia mendapat pencerahan. Syahdan, pohon itu disebut “bodhi”. Pernah saya baca bahwa “bodhi” dapat dicapai bila kita tak lagi mengandung lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (waham atau delusi). Dengan kata lain pencerahan adalah menemukan apa yang teduh.

Setidaknya dalam pengalaman saya, apa yang teduh tidak mudah didapat. Zaman telah menyebabkan kita dijajah oleh sikap yang anti-keteduhan-sikap yang menuntut tujuan pasti, memburu masa depan yang sempurna, memuja guna yang diharuskan jelas.

Maka kita cenderung lupa, tak semua hal bisa diperalat, tak semua hal dapat ditanyakan gunanya, tak semua hal bisa ditanya “untuk apa”. Ada hal-hal yang tak bisa dirumuskan tujuan dan manfaatnya-tapi tetap merupakan bagian sah dari hidup.

Sering kita lupa, kita tak bisa merumuskan apa guna jatuh cinta sebagaimana kita tak bisa merumuskan apa guna usus buntu. Juga kita tak pernah selesai berdebat apa manfaat kesenian.

Tapi dalam konteks zaman ini, kesenian-lah- justru karena tak bisa ditentukan apa gunanya – yang membuka diri kita untuk kembali dalam keteduhan.

Paradoks dari kesenian adalah bahwa kita bisa terpesona, tapi sekaligus bisa merasakan sesuatu yang teduh di tengah pesona hal ihwal di dunia. Dengan kata lain kita bisa bersyukur tanpa memiliki, Maka bisa dikatakan, dalam kesenian kita belajar, tak hanya memuja Tuhan dari desain-desain besar, melainkan Tuhan dari hal-hal yang kecil – God of small things, untuk memakai kata-kata Arundhati Roy. Sebab kesenian lah yang membawa kita menemui bahkan menyentuh, benda dan peristiwa, manusia dan dunia, seakan-akan buat pertama kalinya mereka kita temui. Sebab kesenian lah yang menyebabkan kita rindu akan keteduhan hidup – tak jarang begitu rindu hingga kita siap menyongsongnya, bahkan meloncat ke arahnya, menciumnya.

Kreativitas dalam seni adalah hasil dan proses menyongsong  ke keteduhan yang langka itu. Menyongsong dengan ikhlas, yang juga berrarti menyongsong dengan hati yang bebas. Itulah sebabnya kreativitas selamanya membutuhkan dan membuahkan kemerdekaan jiwa. Itulah yang kita warisi sejak Agustus 1945. Untuk masa kini dan masa depan bangsa , itulah yang selalu kita pelihara dan kembangkan. Juga disini, di Komunitas Salihara ini.

Terima Kasih

Goenawan Mohammad

-------

So let’s take a look around..beberapa area favorit saya..
 
1. Yak beginilah tampak luar tempat ini..
Mobil Perang kesayangan saya



2. Directory




3. Toilet

4. Area selasar

5. Inilah tempat kejadian perkara, di tangga menuju surau ini saya kepleset, lalu cidera sampai sekarang...hih..

6. Pojok grafiti

7. Foto-foto para penampil yang pernah manggung

8. Tempat favorit untuk...berjemur..kalau sore-sore naik ke sini menatap langit..menoleh sedikit ke arah kanan, udah keliatan Ramayana-Robinson..dan samar-samar terdengar"diskon..diskon..celana..baju anak.."

Oke, dengan bergumul di tempat ini, status IRT saya berubah jadi ART gak?

Tetep ART as in Asisten Rumah Tangga..bukan ART as in Kesenian atau Nyeni ya..

Udah ah bosen.

No comments:

Post a Comment