What I learned from “Damned”
Saya sedang membaca salah satu buku karangan Chuck
Palahniuk, berjudul “Damned”, hampir selesai, tapi saya bisa buat sedikit ulasan
bahwa buku ini menarik untuk dibaca di kala kita sedang bosan, paling tidak
bisa bikin ketawa satir.
Buku ini bercerita tentang seorang anak remaja berumur 13
tahun, meninggal dan masuk neraka. Di sini neraka digambarkan cukup menarik,
karena diisi oleh banyak selebritis seperti Heath Ledger, Judy Garland,
Jackie’O, ditambah banyak makhluk mengerikan lainnya.
Belum selesai membacanya, tiba-tiba..
Ada satu paragraph tentang konsep antara Si Hidup dan Si
Mati dari buku ini, yang membuat saya berandai-andai asal, but I really like
the idea of it.
In the prejudiced, bigoted modern world, alive is alive.
Dead is dead. And the two factions must not interact. This attitude is entirely
understandable when you consider what the dead would do to the property values
and stock prices. Once the dead informed the living that material possessions
were a big joke-ARE a big joke- well, De Beers people could never sell another
diamond. Pension funds would truly wither.
See the point why I like the idea?
Saya kemudian ikut mengandaikan, bayangkan kalau saya bisa selalu
berinteraksi dengan yang sudah mati (nggak peduli bagaimana mereka mati atau
sejarah hidupnya sebelum mati), dan kita bisa bertanya dan mendapat jawaban pasti
yang selama ini selalu bikin penasaran (saya sih penasaran banget):
“Ada nggak sih surga dan neraka?”
“Apakah beneran ada imbalan atau hukuman atas apa yang
selama ini diperbuat semasa hidup?”
(Kalau yakin pada adanya Tuhan melalui kitab suci/agama,
sudah pasti jawabannya iya ada, tapi saya nggak mau nyangkut-nyangkutin agama,
namanya juga berandai asal-asalan)
Atau bisa senantiasa diingatkan sama si mati bahwa:
“Udah nggak usah serakah cari duit banyak-banyak, kerja
lembur sampai hampir mati, toh duit beneran nggak dibawa mati, nih buktinya gue
mati banyak duit nggak ngaruh, I still can’t buy a house in heaven”
Sebenarnya saya yang masih hidup tahu akan nasihat ini, dan
banyak orang yang saya yakin sering dinasehatin seperti itu, bahwa harta nggak
akan dibawa mati. Tapi, sepertinya kebanyakan orang akhirnya lupa dan kembali
terbuai dalam dunia materi.
Nah, kalau seringkali berinteraksi dan diingetin sama si
mati tentang hal ini, mungkin keserakahan di dunia nggak akan terjadi ya?
Sistem kapitalisme kebablasan atau apapun yang mendorong orang serakah pun
nggak bertahan lama. I guess.
Karena melihat kenyataannya, candu agama pun nggak banyak
menolong, adanya konsep atau ajaran Tuhan dalam mengkontrol perilaku masing-masing, pun
untuk sebagian orang masih terasa abstrak bahkan ilusi belaka, sehingga juga
nggak bisa kasih solusi untuk meredakan keserakahan.
Mesti ada si mati yang berlaku sebagai hantu gentayangin dan
ngasih tahu langsung melulu kali ya “Jangan maruk..jangan serakah..jangan
korupsi..”. Secara dengan wahyu Ilahi nggak masuk, atau melihat penderitaan
sesama yang hidup pun nggak ada pengaruhnya.
Sepertinya dinasehatin kuntilanak baru didengerin :p
No comments:
Post a Comment