Am I a bit psychopathic?
Pertanyaan yang (untuk dipikir-pikir) penting-penting enggak,
muncul setelah membaca buku berjudul “The Psychopath Test” yang ditulis oleh
Jon Ronson (saya baru baca sekarang!). Kedua kalinya Jon Ronson bikin saya tenggelam dalam keseruan, yang
pertama adalah ketika saya nonton film “Men Who Stare at Goats” yang dibuat berdasarkan
bukunya.
Saya mau coba iseng menelaah sendiri apa yang saya dapat
dari membaca buku ini, selain ‘kelelep’…..nggak ada :p
Baiklah…
Buku ini menuliskan perjalanan Jon Ronson, seorang jurnalis
‘menyusuri kegilaan’. ‘Gila’ menjadi obsesinya ketika ia dihubungi oleh seorang
peneliti untuk membantu memecahkan sebuah misteri. Misterinya apa, nggak usah
saya bahas, yang penting akhirnya misteri tersebut terpecahkan (bukan disini
intinya), tetapi si peneliti agak kecewa dengan hasil temuan Jon, karena
jawaban dari misteri tersebut agaknya kurang ‘wah’ untuk si peneliti, yang
jawabannya ternyata cuma gituu aja!
‘Gitu aja’ menjadi menarik ketika kemudian Jon Ronson merespon
dengan:
“But it isn’t disappointing, can’t you see? It’s incredibly
interesting. Aren’t you struck by how much action
occurred simply because something went wrong with one man’s brain? It is as
if the rational world, your world was a still pond and Petter’s brain was a
jagged rock thrown into it, creating ripples everywhere.”
Pemikirannya inilah yang mengantarkan Jon Ronson masuk ke
industry of madness. Ia berpikir, misteri yang ia pecahkan tersebut hanya
karena iseng-iseng seorang ‘gila’, akan tetapi bisa membuat seluruh peneliti
yang berada di berbagai negara kelimpungan, membuat teori-teori konspirasi, dan
juga membuat dirinya terbang kesana kemari. One man’s craziness has a huge
influence. Once, psychologists said that psychopaths made the world go round.
Suddenly madness everywhere.
And so Jon determined to learn about madness, the impact it
had on the way society evolves.
Jon Ronson memaparkan beberapa istilah dan eksperimen di
ranah psikologi manusia, yang menambah pengetahuan saya (kan nggak punya latar
belakang pendidikan khusus psikologi). Seperti adanya buku DSM-IV-TR , 943
halaman, text book, yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association,
sebuah panduan untuk mengetahui jenis-jenis, atau gejala macam-macam mental
disorder/mental illness. Dulunya buku ini terbit hanya sekitar beberapa puluh
halaman, tapi sekarang makin tebal, jaman makin canggih makin tambah penyakit
mental ya…nggak berkurang.
According to this book, Jon explained that in this century
there are more crazy people than in centuries ago, just look at the book “DSM
–IV” Diagnostic and statistic Manual of Mental Disorder. Grief is now Major
Depressive disorder; everyday worries are Generalized Anxiety Disorder ; the
forgetting of old age is Mild Neurocognitive Disorder; having temper tantrum is
Childhood Bipolar Disorder; and all of us have Attention Deficit Disorder
(ADD).
Cray Cray Man.
Pengetahuan lain untuk saya, yang juga menjadi fokus Jon
Ronson dalam bukunya ini adalah tentang psikopat. Kalau denger kata psikopat,
buat saya berarti orang yang sadis sekali, pembunuh yang kalau bunuh nggak cuma
nusuk sekali, tapi pakai proses nyiksa. Nah, dalam buku ini Jon Ronson
memaparkan bahwa nggak cuma pembunuh sadis itu psikopat, tapi pengusaha kelas
kakap, politikus yang nggak peduli dengan orang lain/masyarakat lainnya bisa
jadi adalah psikopat, karena salah satu ciri psikopat adalah tidak memiliki
empati.
Di buku ini Jon Ronson menceritakan bagaimana ia mencoba menjadi
seorang psychopath spotter, dengan berbekal sebuah list untuk mengetahui gejala
psikopat pada seseorang. The PCL-R checklist yang disusun oleh Robert Hare
seorang ahli yang mendalami criminal psychology.
Berikut ini daftarnya…
1. Glibness/superficial charm
2. Grandiose sense of self-worth
3. Need for stimulation/proneness to boredom
4. Pathological lying
5. Conning/manipulative
6. Lack of remorse or guilt
7. Shallow affect
8. Callous/lack of empathy
9. Parasitic lifestyle
10. Poor
behavioral control
11. Promiscuous
sexual behavior
12. Early
behavior problem
13. Lack
of realistic long-term goals
14. Impulsivity
15. Irresponsibility
16. Failure
to accept responsibility for own actions
17. Many
short-term marital relationship
18. Juvenile
delinquency
19. Revocation
of conditional release
20. Criminal
versatility
Coba tes dari 20 ini..dijawab ‘ya’ semua atau ‘tidak’ semua?
Baca buku ini, terlebih tentang list diatas, bikin saya
ngawang-ngawang berpikir; jangan-jangan sekitar saya banyak orang gila atau
psikopat, di kantor (ih iyaa!), bahkan tiba-tiba saya meyakini bahwa pacar saya
bisa jadi gila atau psikopat(ini kayaknya pasti sih!), but then again it makes
my life more interesting, atau lebih tepatnya kayak neraka dunia.
Kemudian mengutip lagi dari buku tersebut..
“But we weren’t only in the industry of madness, we were
also in the business of conformity”
Mungkin benar ya, balik lagi menggunakan kata favorit saya -
paradoks, kita nih hidup diantara ‘tegangan’ gila dan normal, atau gila dan
konformis? Benar-benar tarik menarik antara keduanya. Demi kelangsungan hidup
bersama dibuat aturan untuk dipatuhi bersama-sama, seragam dan supaya teratur,
tapi ternyata hidup nggak bisa selamanya juga begitu. Punya otak, kemudian
dipakai mikir “kenapa begini, kenapa begitu”, akhirnya bertindak nggak lagi
sama dengan yang lain (kelompok), dianggap ‘gila’ deh.
“There’s a societal push for conformity in all ways”
Yang normal itu yang bagaimana? Kayaknya sih berdasarkan
jumlah aja, mayoritas melakukan hal yang sama, berarti itu yang diterima. Mayoritas
biasa membunuh (karakter), maka membunuh itu jadi ‘normal’. “semuanya juga gitu
kok!”. Apakah normal itu lebih baik dan lebih benar?
Lalu siapa yang layak menentukan secara mutlak?
Nowadays, the boundary between the crazy and normal is fuzzy
and elastic, with no bright line to say, who is sick and who is well.
Buat saya lack of empathy adalah benar ciri-ciri gila dan
psikopat, ketika orang sudah nggak peduli lagi, menindas, merasa paling benar
dan absolut dalam aspek apapun. That’s psychopath. That’s the wrong sort of
madness.
Saya berada di irisan ‘normal’ dan ‘gila yang baik’ aja deh.
The right sort of madness for me is that we act differently, because we know that
there is no such thing as an absolute fact, so we keep on moving. A lot more
perspective that we need to look at.
Hanya kata-kata Bunda Dorce yang mutlak (lagi-lagi).
Intinya sih, pelihara jenggot itu sunah Rosul, pelihara masa
lalu..ogah lah yawww!
Minal aidin wal faidzin :)
_cover.jpg)
No comments:
Post a Comment