8/16/13

Gendeng


Am I a bit psychopathic?

Pertanyaan yang (untuk dipikir-pikir) penting-penting enggak, muncul setelah membaca buku berjudul “The Psychopath Test” yang ditulis oleh Jon Ronson (saya baru baca sekarang!). Kedua kalinya Jon Ronson bikin saya tenggelam dalam keseruan, yang pertama adalah ketika saya nonton film “Men Who Stare at Goats” yang dibuat berdasarkan bukunya.



Saya mau coba iseng menelaah sendiri apa yang saya dapat dari membaca buku ini, selain ‘kelelep’…..nggak ada :p

Baiklah…

Buku ini menuliskan perjalanan Jon Ronson, seorang jurnalis ‘menyusuri kegilaan’. ‘Gila’ menjadi obsesinya ketika ia dihubungi oleh seorang peneliti untuk membantu memecahkan sebuah misteri. Misterinya apa, nggak usah saya bahas, yang penting akhirnya misteri tersebut terpecahkan (bukan disini intinya), tetapi si peneliti agak kecewa dengan hasil temuan Jon, karena jawaban dari misteri tersebut agaknya kurang ‘wah’ untuk si peneliti, yang jawabannya ternyata cuma gituu aja!

‘Gitu aja’ menjadi menarik ketika kemudian Jon Ronson merespon dengan:

But it isn’t disappointing, can’t you see? It’s incredibly interesting. Aren’t you struck by how much action occurred simply because something went wrong with one man’s brain? It is as if the rational world, your world was a still pond and Petter’s brain was a jagged rock thrown into it, creating ripples everywhere.”

Pemikirannya inilah yang mengantarkan Jon Ronson masuk ke industry of madness. Ia berpikir, misteri yang ia pecahkan tersebut hanya karena iseng-iseng seorang ‘gila’, akan tetapi bisa membuat seluruh peneliti yang berada di berbagai negara kelimpungan, membuat teori-teori konspirasi, dan juga membuat dirinya terbang kesana kemari. One man’s craziness has a huge influence. Once, psychologists said that psychopaths made the world go round.

Suddenly madness everywhere.

And so Jon determined to learn about madness, the impact it had on the way society evolves.

Jon Ronson memaparkan beberapa istilah dan eksperimen di ranah psikologi manusia, yang menambah pengetahuan saya (kan nggak punya latar belakang pendidikan khusus psikologi). Seperti adanya buku DSM-IV-TR , 943 halaman, text book, yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, sebuah panduan untuk mengetahui jenis-jenis, atau gejala macam-macam mental disorder/mental illness. Dulunya buku ini terbit hanya sekitar beberapa puluh halaman, tapi sekarang makin tebal, jaman makin canggih makin tambah penyakit mental ya…nggak berkurang.

According to this book, Jon explained that in this century there are more crazy people than in centuries ago, just look at the book “DSM –IV” Diagnostic and statistic Manual of Mental Disorder. Grief is now Major Depressive disorder; everyday worries are Generalized Anxiety Disorder ; the forgetting of old age is Mild Neurocognitive Disorder; having temper tantrum is Childhood Bipolar Disorder; and all of us have Attention Deficit Disorder (ADD).

Cray Cray Man.




Pengetahuan lain untuk saya, yang juga menjadi fokus Jon Ronson dalam bukunya ini adalah tentang psikopat. Kalau denger kata psikopat, buat saya berarti orang yang sadis sekali, pembunuh yang kalau bunuh nggak cuma nusuk sekali, tapi pakai proses nyiksa. Nah, dalam buku ini Jon Ronson memaparkan bahwa nggak cuma pembunuh sadis itu psikopat, tapi pengusaha kelas kakap, politikus yang nggak peduli dengan orang lain/masyarakat lainnya bisa jadi adalah psikopat, karena salah satu ciri psikopat adalah tidak memiliki empati.

Di buku ini Jon Ronson menceritakan bagaimana ia mencoba menjadi seorang psychopath spotter, dengan berbekal sebuah list untuk mengetahui gejala psikopat pada seseorang. The PCL-R checklist yang disusun oleh Robert Hare seorang ahli yang mendalami criminal psychology.

Berikut ini daftarnya…

    1. Glibness/superficial charm
    2. Grandiose sense of self-worth
    3. Need for stimulation/proneness to boredom
    4. Pathological lying
    5. Conning/manipulative
    6. Lack of remorse or guilt
    7. Shallow affect
    8. Callous/lack of empathy
    9. Parasitic lifestyle
   10. Poor behavioral control
   11. Promiscuous sexual behavior
   12. Early behavior problem
   13. Lack of realistic long-term goals
   14. Impulsivity
   15. Irresponsibility
   16. Failure to accept responsibility for own actions
   17. Many short-term marital relationship
   18. Juvenile delinquency
   19. Revocation of conditional release
   20. Criminal versatility

Coba tes dari 20 ini..dijawab ‘ya’ semua atau ‘tidak’ semua?

Baca buku ini, terlebih tentang list diatas, bikin saya ngawang-ngawang berpikir; jangan-jangan sekitar saya banyak orang gila atau psikopat, di kantor (ih iyaa!), bahkan tiba-tiba saya meyakini bahwa pacar saya bisa jadi gila atau psikopat(ini kayaknya pasti sih!), but then again it makes my life more interesting, atau lebih tepatnya kayak neraka dunia.

Kemudian mengutip lagi dari buku tersebut..

But we weren’t only in the industry of madness, we were also in the business of conformity

Mungkin benar ya, balik lagi menggunakan kata favorit saya - paradoks, kita nih hidup diantara ‘tegangan’ gila dan normal, atau gila dan konformis? Benar-benar tarik menarik antara keduanya. Demi kelangsungan hidup bersama dibuat aturan untuk dipatuhi bersama-sama, seragam dan supaya teratur, tapi ternyata hidup nggak bisa selamanya juga begitu. Punya otak, kemudian dipakai mikir “kenapa begini, kenapa begitu”, akhirnya bertindak nggak lagi sama dengan yang lain (kelompok), dianggap ‘gila’ deh.

There’s a societal push for conformity in all ways

Yang normal itu yang bagaimana? Kayaknya sih berdasarkan jumlah aja, mayoritas melakukan hal yang sama, berarti itu yang diterima. Mayoritas biasa membunuh (karakter), maka membunuh itu jadi ‘normal’. “semuanya juga gitu kok!”. Apakah normal itu lebih baik dan lebih benar?

Lalu siapa yang layak menentukan secara mutlak?

Nowadays, the boundary between the crazy and normal is fuzzy and elastic, with no bright line to say, who is sick and who is well.

Buat saya lack of empathy adalah benar ciri-ciri gila dan psikopat, ketika orang sudah nggak peduli lagi, menindas, merasa paling benar dan absolut dalam aspek apapun. That’s psychopath. That’s the wrong sort of madness.

Saya berada di irisan ‘normal’ dan ‘gila yang baik’ aja deh. The right sort of madness for me is that we act differently, because we know that there is no such thing as an absolute fact, so we keep on moving. A lot more perspective that we need to look at.

Hanya kata-kata Bunda Dorce yang mutlak (lagi-lagi).

Intinya sih, pelihara jenggot itu sunah Rosul, pelihara masa lalu..ogah lah yawww!

Minal aidin wal faidzin :)

No comments:

Post a Comment